Sejarah Singkat Montespro

5 Agustus 2012 pukul 07.15 pagi. Kelopak mataku terbuka perlahan. Menerbitkan sepasang bola mata yang nampak setengah kebingungan. Sorotnya berlarian di setiap sudut ruangan. Dimana aku…?? Aku tak mengenal ruangan ini… oohhh.. ternyata aku di mes tempat kerjaku. Sedang mengistirahatkan diri sejenak untuk mempersiapkan mentalku dalam misi merendahkan harga diri hari ini. Beginilah memang.. Terkadang aku merasa linglung. Sebab hal pertama yang biasa ditangkap oleh indera pengelihatanku adalah plastik padat berbentuk lingkaran yang menggantung di atas kasurku. Itu adalah alat yang kubuat untuk membantuku beranjak dari kasur tempat energiku dicharge. Namun sekarang berbeda lagi, dan mungkin jiwa pagiku belum bisa menerima kenyataan ini. Beberapa minggu lalu sebelum bulan suci ini tiba aku masih berada di kota kelahiranku. Kota Malang. Sampai akhirnya perusahaan tempat aku bekerja memindah tugaskan aku. Secara harfiah berarti memisahkan aku dengan segala keceriaan dan kehangatan yang menyelimuti hariku di sana. Madiun kota gadis. Di kota kecil inilah rumah keduaku berada. Bersama dengan beberapa manusia seumuran denganku yang kuanggap sebagai keluarga baruku ini. Tentunya aku sahur lumayan muluk pagi ini. Sebab bagaimanapun juga raga ini harus bisa menunaikan puasa dihari yang bakalan jadi hari paling berat bulan ini. Misiku hari ini adalah mencoba memutar roda bisnisku lebih cepat lagi. Saat itu aku adalah seorang pemburu peluang yang masih newbie. Masih kental akan pengerjaan yang amatir.

Ramadhan di kota ini aku membuka usaha berjualan amplop untuk lebaran. Beberapa desain kuciptakan dengan sepenuh hati dan penuh dedikasi untuk keberhasilan bisnisku ini. Dan kali ini aku mencoba teknik pemasaran yang cukup ekstrim bagiku. Pedagang kaki lima. Dengan segala bacaan doa dan asma-asma Allah mengiringi keberangkatanku. Sebagai pendongkrak semangatku. Dan pereda rasa maluku saat mulai beroperasi di setiap bus. Tepat pukul 10.00 pagi aku sampai di terminal kota Madiun. Diriku Nampak asing dimata para PKL di sini. Tapi bukan diriku, melainkan dagangan yang tertata sok rapi di keranjang kotak yang selalu kurangkul ini. Sorot mereka penuh akan tanda tanya. Sebagian ada yang sok akrab dan langsung mengambil daganganku sambil bertanya-tanya asal usul benda unik tersebut. Aku pun menjawab tanya tersebut dengan tawa tertahan. Mencoba berlagak supel. Bus pertama kulewati dengan detak jantung 360Bpm. Bagai sedang dikejar anjing murka. Bus kedua mulai turun hingga 270Bpm. Bus ketiga mulai merosot sampai 80Bpm. Itu berarti mentalku telah mampu beradaptasi. Kini secara langsung aku adalah pedagang kaki lima dadakan.

Pukul 12.00 siang bolong. Terik sang surya seakan sengaja menguras cairan dalam poriku. Sungguh tak kusangka. Meski berjualan produk tanpa saingan di sini, namun tetap saja sukarnya setengah mati. Memang mencari uang halal tak semudah yang dibayangkan. Berbagai cobaan pasti hadir. Terbukti saat aku hendak naik bus, kala itu aku ikut bergerumbul dengan para pedagang kaki lima lainnya. Begitu beranjak masuk, kurasakan seseorang di belakang menarikku dengan keras. “Daganganmu itu gak ada saingannya, gausah ikut bergerombol dan halangi jalanku..!!”. Seorang pedagang nampaknya tak suka dengan caraku. Aku pun tak mau cari masalah di sini. Lagipula ini bulan suci Ramadhan, takkan kubiarkan cek cok dengan orang semacam ini menodai ibadahku. Hanya kubalas dengan senyum dan sepatah kata “oyi pak..”.

Pukul 14.00 siang hari. Buka main lagi, kali ini aku umpama gurita di tengah hamparan gurun sahara. Keringat telah terperas habis.  Rongga-rongga leherku tak bisa merasakan kesejukan lagi. Tenggorokanku bagaikan gabus yang mengering.  Sesekali pandanganku terpaku pada para pedagang yang menggembol botol-botol berisi air. Astaga botol itu diselimuti embun yang nampak sejuk. Ooohh.. air…. Kau begitu segar… sudikah kau membasahi bibir ini… “Hey yang benar saja..! Ini belum seberapa dibanding dengan Ramadhan tahun lalu..!” Memory tentang tahun lalu menerbitkan semangatku lagi. Apapun yang terjadi aku tak pernah menyerah, walau lidah ini mengering hingga tak bisa merasakan lezat pedasnya sambal bajak favoritku lagi. Aku tetap akan bertahan. Kemudian aku beranjak ke mushalla. Selama satu jam aku beristirahat di sana. Mencoba mengumpulkan kembali tekad yang berserakan. Demi Tuhan yang menyayangi umatNya. Tak dapat dipercaya. Selama aku berdagang dengan penuh pengorbanan, total hanya mendapat Rp. 7000..! Namun entah mengapa senyuman tetap terpancar diwajahku. Benar-benar tanpa paksaan. Aku percaya, semua ini mengajarkanku betapa penting arti bersabar dan bersyukur walau apapun yang terjadi. Kulanjutkan lagi ambisiku selama beberapa saat. Namun masih saja tak mendapatkan hasil. Terang saja, itu karena para konsumen enggan bahkan untuk melirik dagangan kami para PKL. Dalam benak mereka mungkin aku hanya berjualan tahu isi atau air mineral dengan harga berkali lipat dari biasanya tanpa melihat dulu produk yang ditawarkan. Terlebih lagi berdagang seperti itu dikejar durasi  waktu jika tak ingin terbawa oleh bus. Sungguh susah menjadi PKL.

Pukul 16.30 akhirnya aku beranjak pulang kembali ke mes. Bahagia sekali jika membayangkan buka puasa tinggal satu jam setengah lagi. Jarak dari terminal ke mes kurang lebih 4km dan energiku tak cukup untuk melaluinya dengan jalan kaki. Sedangkan jika aku naik ojek bakalan ludes in come ku selama sehari berjuang mati-matian di tempat ini. Sampai akhirnya kuputuskan untuk numpang mobil pick up. Dewi fortune ternyata masih berpihak padaku. Sekali menumpang langsung sampai di dekat mes. Tanpa perasaan kecewa aku pun pulang dan langsung membasahi diri bersuci dari segala noda yang menempel di permukaan kulitku.  Pukul 17.30 menjelang berbuka. Bagai panggilan jiwa. Sesuatu memintaku untuk pergi ke rumah Allah. Masjid besar Baitul Hakim. Masjid terakbar di kota ini. Berjalan kaki aku berangkat. Raga ini kembali bugar usai mandi. Tak sampai 15menit aku telah bersua dengan kerumunan orang-orang beriman yang brsiap berbuka puasa bersama. Awalnya aku tak mengerti. Tatkala kaki lelahku menginjak lantai suci masjid ini. Sosok pria berwajah ramah menghampiriku dengan membawakan sebungkus es dawet. Nampak sangat menyegarkan. Dan saat aku duduk, seseorang yang wajahnya tak kalah bersahabat malambaikan tangannya padaku. Dia memberiku kotak berisi makanan. Beberapa menit kemudian suara merdu bedug masjid

berkumandang. Menandakan perjuanganku hari ini telah usai. Dengan kata Bismillah ku cucup es dawet segar tersebut. Alirannya kurasakan dari lidah melewati rongga-rongga leherku hingga meresap masuk ke tenggorokanku. Subhanallah alangkah nikmat karunia Allah pada hambanya yang bersabar dan bersyukur. Kemudian kubuka pelan-pelan isi kotak tersebut sambil Bismillah. Sungguh, hingga kini masih terbayang pemandangan indah itu. Segumpal nasi, ayam, sosis dipadu dengan cap jai, dihiasi dengan mentimun yang teriris cantik, dan terlihat lebih menggiurkan dengan kerupuk udang. Mungkin meski aku meminjam microphone masjid buat bilang wow, dan bersyukur seribu kali dengan lantang, tak akan mampu membuat puas hati ini bersyukur pada Sang Ilahi. Aku percaya ini adalah Mu’jizat-Nya bagiku. HambaNya yang tak berdaya ini.  Namun perjuanganku tak berahir sampai sini. Dalam setiap lamunanku, Allah selalu memberiku petunjuk. Dialah penasihat dalam hidupku. Hingga aku menemukan strategi penjualan secara online. Sampai kuciptakan blog montespro.blogspot.com. Dan Alhamdulillah metode ini berhasil membantuku menjual produk amplopku. Hingga total kurang lebih 1000 biji amplop buatanku sudah tersebar di Indonesia ada tahun 2012. Subhanallah. Alhamdulillah.

 

kisah ini bisa di baca juga di sini

naik pick up. meski lelah namun bangga.

 

Berjalan menuju terminal madiun

Mencoba berjualan di bazar kota

Kantor kerja madiun

Proses produksi amplop lebaran generasi pertama 2012